
Peringatan Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda SMP Xaverius Metro 2024
Saat bangsa ini merayakan Bulan Bahasa, terkait sejarah Sumpah Pemuda, ternyata masih ada segelintir kaum muda yang tidak ingat momen heroik yang terjadi pada 28 Oktober 1928 itu.
Kisahnya begini, ketika di warung kopi, di depan sebuah sekolah, sejumlah siswa-siswi asyik dengan gadget, spontan kutanya, “Bulan apa ini?” Dua orang siswa menjawab nyaris bersamaan, “Oktober.” “Lha iya, bulan apa?” Tanpa dosa mereka melongo, “Maksudnya?” Kujawab dengan gemas, “Bulan Bahasa kan?” “Bulan Bahasa?” sergah salah seorang di antara tujuh siswa dengan pandangan sinis, “Untuk apa Bulan Bahasa?”
Tentu, realitas pengetahuan siswa/siswi di atas tidak menggambarkan fakta keseluruhan dari kaum muda bangsa kita tentang Bulan Bahasa. Saya teringat jargon filosofis dari Ki Hadjar Dewantara yang nyaris lenyap ditelan oleh ragam ideologi pendidikan mutakhir.
Ajaran adiluhung macam “Jer Basuki Mowo Bea, Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani” seakan lenyap tergulung ragam ideologi baru yang abstrak. Bahasa Indonesia secara historis adalah alat juang pemuda kala itu. Kongres pemuda 1926 dan 1928 adalah bukti otentiknya.
Pentingnya Membudayakan Bulan Bahasa
Generasi milenial kini cenderung latah mendulang tanpa daras informasi, tanpa nalar tetapi langsung forward atau copy paste. Generasi tanpa kecerdasan literasi hanyalah gundukan sampah. Agar Bulan Bahasa (yang di dalamnya termasuk sastra) tumbuh segar selaksa pohon yang rimbun dan memiliki manfaat guna bagi generasi mutakhir, hal-hal berikut perlu direnungkan:
- Membangun ulang eksistensi Bulan Bahasa di dunia pendidikan. Kunci sukses pendidikan adalah kecakapan berbahasa dan berpikir. Bahasa Indonesia sebagai alat keilmuan tidak boleh direndahkan.
- Kesadaran kolektif akan pesan historis pemuda 1928. Kesadaran ini menumbuhkan keterlibatan generasi mutakhir dalam merawat nasionalisme.
- Penciptaan iklim sekolah peduli Bulan Bahasa. Sekolah dapat mengadakan pameran karya sastra, kajian historis, lomba menulis, lomba mading, video kreatif, dan poster.
- Jiwa Bulan Bahasa menyatu pada guru dan dosen. Guru dan dosen penting mengulik jejak historis, makna kesadaran, dan pesan cinta Tanah Air melalui bahasa dan sastra.
- Kegiatan kreatif dan inovatif berbasis bahasa dan sastra. Aktivitas ini bisa disinergikan secara kelembagaan dan didukung anggaran cinta bangsa.
- Gerakan cinta bahasa dan sastra sepanjang tahun. Terlebih di era digital, kegiatan kreatif bisa terus disemarakkan tidak hanya di Bulan Bahasa.
Dengan menyadari Bulan Bahasa sebagai simbol sejarah pergerakan dan perjuangan pemuda, maka setiap generasi wajib terus mengulik hikmah kesadaran akan persatuan bangsa. Sumpah Pemuda 1928 menegaskan: “Bertanah Air Satu, Berbangsa Satu, dan Berbahasa Satu, Indonesia.”
Kegiatan di SMP Xaverius Metro
Dalam peringatan Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, SMP Xaverius Metro mengadakan beberapa kegiatan antara lain:
- Upacara Bendera
- Parade siswa per kelas
- Lomba-lomba:
- Mading
- Menulis Cerpen
- Video Kreatif
- Poster
Kegiatan ini mendapat tanggapan positif sehingga dapat berjalan dengan baik. Terima kasih atas perhatian dan kerja sama para guru, karyawan, dan siswa/siswi SMP Xaverius Metro.
Tags: Bulan Bahasa, Sumpah Pemuda, Pendidikan, Lomba Bahasa, SMP Xaverius Metro

